Arak-arakan kemudian akan berakhir ketika manten tebu diletakkan dalam mesin penggilingan tebu.
Itu menandakan dimulainya fase penggilingan dan produksi gula di pabrik tersebut.
Namun, di beberapa daerah ada juga yang menanamkan kembali manten tebu tersebut.
Prosesi "pernikahan" tebu melambangkan regenerasi tanaman, sementara menanamnya kembali adalah simbol kebangkitan.
Dalam bahasa Jawa, manten berarti pengantin, sementara tebu merujuk pada tanaman penghasil gula.
Tradisi manten tebu melambangkan pernikahan simbolis antara dua batang tebu yang dipilih sebagai perwakilan leluhur dan alam.
Tradisi unik satu ini diwariskan secara turun-temurun, dengan sentuhan kreativitas seperti penggunaan kain lurik dan hiasan bunga sebagai simbol kemakmuran.
Ritual dilakukan bertujuan untuk memohon perlindungan dari malapetaka dan kegagalan panen sekaligus sebagai ekspresi syukur atas hasil bumi yang melimpah.
(BACA JUGA: Begini Profil Ryan Adriandhy, Sutradara Film Animasi Jumbo Yang Sukses Pecahkan Rekor Penonton Terbanyak!)
Dalam konteks sosial, pengantin tebu memperkuat solidaritas antar warga karena melibatkan kerja sama mulai dari persiapan hingga puncak acara.
Tradisi manten tebu nyatanya memang hidup di daerah-daerah penghasil tebu di Indonesia, terutama wilayah Jawa.
Pada intinya, manten tebu bukan manusia yang dinikahkan, tetapi hanya tebu yang disimbolkan sebagai manusia.
Jika dalam film Pabrik Gula manusia menjadi tumbal pengantin, maka lain cerita dengan ritual aslinya di dunia nyata.
Acara ini sudah menjadi pesta rakyat, dengan berbagai pertunjukan kesenian dan pasar rakyat. (*)
Arak-arakan kemudian akan berakhir ketika manten tebu diletakkan dalam mesin penggilingan tebu.
Itu menandakan dimulainya fase penggilingan dan produksi gula di pabrik tersebut.
Namun, di beberapa daerah ada juga yang menanamkan kembali manten tebu tersebut.
Prosesi "pernikahan" tebu melambangkan regenerasi tanaman, sementara menanamnya kembali adalah simbol kebangkitan.
Dalam bahasa Jawa, manten berarti pengantin, sementara tebu merujuk pada tanaman penghasil gula.
Tradisi manten tebu melambangkan pernikahan simbolis antara dua batang tebu yang dipilih sebagai perwakilan leluhur dan alam.
Tradisi unik satu ini diwariskan secara turun-temurun, dengan sentuhan kreativitas seperti penggunaan kain lurik dan hiasan bunga sebagai simbol kemakmuran.
Ritual dilakukan bertujuan untuk memohon perlindungan dari malapetaka dan kegagalan panen sekaligus sebagai ekspresi syukur atas hasil bumi yang melimpah.
(BACA JUGA: Begini Profil Ryan Adriandhy, Sutradara Film Animasi Jumbo Yang Sukses Pecahkan Rekor Penonton Terbanyak!)
Dalam konteks sosial, pengantin tebu memperkuat solidaritas antar warga karena melibatkan kerja sama mulai dari persiapan hingga puncak acara.
Tradisi manten tebu nyatanya memang hidup di daerah-daerah penghasil tebu di Indonesia, terutama wilayah Jawa.
Pada intinya, manten tebu bukan manusia yang dinikahkan, tetapi hanya tebu yang disimbolkan sebagai manusia.
Jika dalam film Pabrik Gula manusia menjadi tumbal pengantin, maka lain cerita dengan ritual aslinya di dunia nyata.
Acara ini sudah menjadi pesta rakyat, dengan berbagai pertunjukan kesenian dan pasar rakyat. (*)